DPJatim

MENCARI LANDASAN FILSAFAT PENDIDIKAN (seri 3)

Prof. Dr. Warsono, M.S.

Sifat kodrat manusia sebagai individu, merupakan unsur negative yang harus dikendalikan atau ditekan agar tidak menjadi dominan. Sifat individu ini nampak pada anak-anak, sehingga sering terjadi perebutan permainan diantara mereka.  Untuk menekan sifat individu pada anak-anak dilakukana dengan acara bermain dengan anak yang lain. Dengan permainan  tersebut akan menyadarkan bahwa ada orang lain, yang harus diterima keberadaannya. Oleh karena itu, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), menjadi penting sebagai langkah awal untuk mengendalikan sifat ke-aku-annya.

Di lingkungan Masyarakat kota, Dimana para orang tua semakin sibuk bekerja, dan  kasadaran terhadap keluarga berencana (KB) yang semakin tinggi, PAUD menjadi hal yang wajib, karena anak tidak bisa berinteraksi dengan anak lain jika hanya di rumah. Hal ini berbeda dengan Masyarakat pedesaan dulu, dan kesadaran tentang  KB  masih rendah, jumlah anak mereka rata-rata lebih dari dua, bahkan ada yang sampai lebih dari lima. Dengan kondisi tersebut, dalam keluarga sudah terjadi interaksi diantara anak-anak, sehingga keberadaan orang lain, sudah terbentuk di keluarga.

Disamping membangun kesadaran social (pengakuan terhadap keberadaan orang lain), PAUD juga masa yang sangat baik untuk membentuk karakter anak. Sesuai dengan pandangan Ki Hadjar Dewantara, bahwa proses belajar anak adalah dengan 3N (Nontoni, Niteni, dan Niru maka anak masih mudah dibentuk karakternya dengan metode pembiasaan dan keteladanan. Orang tua harus menjadi role model dari karakter anak. Dan rumah harus menjadi tempat untuk mebudayakan (membiasakan) karakter. Oleh karena itu, Pendidikan di lingkungan keluarga menjadi sangat penting. Namun dalam masyarakat modern (perkotaan), peran orang tua dalam Pendidikan biasanya semakin hilang. Untuk itu, PAUD harus bisa menggantikan peran orang tua dalam pendidikan, terutama karakter.

Sifat social sebagai unsur positif harus dioptimalkan melalui Pendidikan. Kesadaran bahwa ada kebutuhan terhadap eksistensi orang lain harus terus dipupuk melalui Pendidikan. Asusmi bahwa tidak ada kesuksesan dan keberhasilan tanpa bantuan orang lain harus ditanamkan kepada setiap anak, sehingga bisa mengikis sikap egoism. Sebagaimana dikatakan oleh Hainneman, bahwa adanya “aku” karena “engkau”, dalam arti keberadaan seseorang tidak aka nada artinya jika tidak diakui oleh orang lain.

Sifat individu yang suka memamerkan diri harus disadarkan bahwa semua itu akan sia-sia jika tidak ada orang lain yang mengakui. Untuk itu penghormatan dan kerjasama dengan orang lain sangat dibutuhkan, Dengan demikian, kehidupan Bersama (to live to gather), menjadi kebutuhan mutlak. Meskipun demikian, hidup bersama harus diajarkan kepada setiap anak, terutama kemauan untuk hidup berdampiangan dalam perbedaan,  dengan berbagai suku, agama, dan budaya, karena keragaman murupakan kodrat yang tidak bisa dihindari.

Kehidupan  Bersama harus dilandasi oleh kesetaraan dan kesederajatan. Untuk itu, Pendidikan multikulltur menjadi hal yang penting, karena merupakan ideologi yang menempatkan maanusia dalam kesetaraan dan kesederajatan. Dengan kesetaraaan dan kesederajatan,  hanya aka nada satu  konsep manusia, sebagaimana yang dikatakan oleh Buya Syafii Maarif, bahwa hanya ada  satu kemanusiaan. Dengan demikiran sikap diskriminasi dan merendahkan orang lain, yang bersumber dari sifat individu, bisa dihindari, minikan ditekan.

Kedudukan kondrat manusia sebagai makhluk pribadi yang memiliki kebebasan sebagai unsur negative, juga harus dikendalikan, minimal kebebasan tersebut harus disertai dengan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.  Allah sebagai pemberi kebebasan juga menuntut manusia untuk mempertangungjawabkannya. Apapun yang dilakukan manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Namun Allah  dengan kasih sayangnya juga telah memberi manusia alat yang bisa membantu manusia  dalam menggunakan kebebasannya yaitu akal budi, yang didalamnya ada akal dan hatinurani.  Akal sebagai alat berpikir untuk menemukan kebenaran. Dan Allah telah memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya (berpikir).  Dengan berpikir, manussia bukan hanya bisa menemukan kebenaran dan memahami hukum alam, tetapi juga bisa menyimpulkan bahwa Allah itu ada dengan  ke-Esa-an dan ke-mahakuasaan-nya.  Oleh karena itu, kesadaran bahwa kebebasan harus dipertanggungjawab harus ditanamkan kepada setiap anak. Bahkan tanggungjawab itu bukan hanya kepada Tuhan tetapi juga terhadap alam dan sesama. Bahkan setiap orang harus mempertanggungjawabkan keberadaan diri agar tidak merugikan orang lain. 

Kedudukan manusia sebagai makhluk Tuhan, merupakan unsur positif yang harus ditumbuhkembangkan. Meskipun manusia sebagai ciptaan Tuhan, dilebihkan dari makhluk lainnya, tetapi  manusia tetaplah sebagai makhluk yang lemah. Manusia tidak bisa menghindar dari hukum Tuhan, seperti kematian. Kesadaran sebagai makhluk yang lemah mendorong manusia untuk mencari Tuhan sebagai sumber kekuasaan dan kekuatan. Dalam sejarah pencarian manusia terhadap Tuhan ini bisa dilihat dari adanya paham animism dan dinamisme. 

Kesadaran bahwa manusia sebagai makhluk yang lemah dan ada Tuhan dengan ke-mahakuasa-nya harus terus ditanamkan kepada setiap anak. Kepercyaan dan tanggungjawab atas dirinya terhadap Tuhan harus dipeperkuat. Kesadaran inilah yang akan menghasilkan ketaqwaan dan aklaq mulia. Disinilah kemuliaan manusia akan terwujud dalam kehidupan bersama (di dunia).

Dengan bertolak dari konsep manusia sebagai makhluk yang monopluralis, pendidikan harus diarahkan kepada kemuliaan manusia dengan cara mengembangkan unsur jiwa, sifat social dan kedudukannya sebagai makhluk Tuhan. Kemampuan berpikir kkritis harus kembangkan, karakter harus dibiasakan dan sifat relegiusitas hahrus diperkuat.   Di samping itu, kesehatan badan harus tetap dijaga dan ikatan sebagai suatu bangsa harus terus dipupuk.

Bagikan :